Depresiasi Asset Rumah Tangga

Sebagian dari kita mungkin tidak menyadari bahwa asset yang kita miliki akan sangat berpengaruh pada kondisi financial kita dimasa yang akan datang. Bagi beberapa orang yang sudah mampu membeli rumah, mobil, tanah, sepeda motor, laptop dan sebagainya mungkin tidak pernah berfikir bahwa asset-asset tersebut memiliki umur ekonomis.Apa itu umur ekonomis? Umur ekonomis atau umur manfaat adalah periode waktu atas pemakaian asset dalam kegiatan produktif. Sebagai contoh sebuah bangunan rumah hanya layak digunakan untuk periode tertentu, misalkan kita menetapkan 20 th, lalu untuk sepeda motor  5 th, dan laptop 3 th, dll.

Kita pasti sering mengalami, apa yang akan terjadi pada asset-asset kita tersebut setelah umur ekonomisnya berakhir. Rumah setelah umur ekonomisnya berakhir atapnya sudah mulai bolong-bolong, gentingnya sudah banyak yang bocor, temboknya sudah rapuh. Kendaraan, setelah umur ekonomis berakhir sudah tidak senyaman waktu baru, mesinnya sering rusak, dipakai tidak enak. Laptop, setelah umur ekonomis berakhir sudah tidak secepat seperti sebelumnya, batterainya sering ngedrop.

Dan apa yang terjadi ketika semua asset kita itu adalah penunjang pekerjaan kita?? Yang terjadi adalah pekerjaan kita menjadi tidak produktif. Semua berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Secara ekonomi ini rugi, karena dengan waktu yang seharusnya kita bisa gunakan untuk mengerjakan pekerjaan lain terbuang percuma hanya karena kita tidak bisa berlaku bijak terhadap asset kita.

Ada baiknya kita mulai membenahi manajemen asset rumah tangga. Kita coba cek ulang asset apa saja yang kita miliki, kita hitung berapa nilainya, kita lihat berapa nilai ekonomisnya, lalu kita membuat perencanaan untuk kebutuhan asset kita dimasa yang akan datang. Pada istilah ekonomi kita sering menyebutnya `depresiasi`.

Apa itu depresiasi? Konsep depresiasi ini muncul akibat penurunan `nilai fisik` dari sebuah asset karena waktu dan penggunaan. Pada istilah akuntansi dalam PSAK no 17 depresiasi atau sering juga disebut penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Agar lebih mudah dipahami dengan depresiasi ini kita menyusutkan nilai asset kita. Tujuannya apa? Tujuannya adalah agar setiap periodenya kita dapat mengalokasikan sebagian pendapatan kita membeli asset baru untuk mengganti asset lama yang sudah tidak produktif.

Jadi pada masa umur ekonomis asset kita habis kita tidak kebingungan dari mana mendapatkan uang untuk membeli yang baru, apalagi asset-asset itu adalah asset penting dalam kehidupan berumah tangga kita, ataupun asset penting yang penunjang pekerjaan kita.

Saya akan memberikan contoh apa yang harus kita lakukan terhadap laptop. Laptop saya beli dengan harga Rp 6.000.000, saya menetapkan umur ekonomis laptop saya adalah 3 tahun. Di akhir tahun ketiga saya berasumsi bahwa laptop ini tidak akan saya jual sehingga nilai residunya adalah nol. Saya akan menggunakan metode paling sederhana dalam melakukan depresiasi yaitu metode garis lurus.

D = (harga beli – nilai residu)/ umur ekonomis

= Rp(6.000.000 – 0)/ 3 th

= Rp 2.000.000/ th

Nah kita dapatkan nilai depresiasi per tahun untuk laptop adalah Rp 2.000.000. Agar tidak terasa berat kita bisa mengalokasikan sekian rupiah setiap bulannya. Apabila Rp 2.000.000 dibagi 12 kita akan mendapatkan nilai kurang lebih Rp 170.000/ bl.

Dengan mengetahui berapa besar nilai depresiasi laptop, kita bisa mulai mengalokasikan Rp 170.000 setiap bulannya untuk membeli laptop baru, sehingga 3 tahun yang akan datang saat kita butuh laptop baru, kita sudah tidak bingung-bingung lagi dapat uang dari mana.

Hal ini juga sebaiknya kita lakukan untuk peralatan2 rumah tangga lainnya sebagai contoh kompor, televisi, kulkas, dll. Semoga bermanfaat, selamat mencoba. Dan salam belajar bijak financial… ^^

*depresiasi hanya berlaku pada asset berwujud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Skip to toolbar